Categories
Ideologi

Piagam Jakarta, Sejarah yang Tidak Bisa Dikembalikan

Oleh: Mr. Mohamad Roem (mantan Mendagri dan Menlu RI)

Waktu rencana Undang-Undang Dasar beserta preambul pada sidang tanggal 18 Agustus 1945 ditetapkan sebagai Undang-Undang Dasar Sementara 1945 bagi Republik Indonesia, yang sehari sebelumnya diproklamirkan, preambul dikurangi tujuh perkataan yang berbunyi “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, sedangkan perkataan Ketuhanan ditambah dengan “Yang Maha Esa”. Golongan Islam yang sudah ikut “mencapai kompromi dengan susah payah” merasa kecewa.

Semua itu sudah menjadi sejarah. Hal itu tidak dapat dikembalikan, tetapi semangatnya hidup dan bersemayam di hati sanubari rakyat. Bagaimana perasaan orang jika sesuatu sudah menjadi sejarah, kita setuju atau tidak, tidak pada tempatnya kita menyayangkan sesuatu, laksana menyayangkan susu sudah tertumpah.

Categories
Islamofobia

Kisah Tikus Karung dan Islam

(Analisis kenapa semakin banyak penistaan terhadap Islam di Indonesia)

Oleh: Anton Permana

Seorang Profesor asal Perancis sedang melakukan penelitian arkeologi tentang Piramida tua di Mesir. Dalam perjalanan dirinya dari lokasi Piramida menuju Kairo, Profesor ini sengaja naik kereta api agar bisa relaks dan menikmati alam Mesir yang begitu eksotil dan sakral akan peninggalan peradaban tertua di dunia ini.

Di atas kereta api, Profesor kebetulan satu tempat duduk bersama seorang pria tua yang kebetulan membawa satu buntal karung. Awalnya Profesor tak begitu peduli dengan pria tersebut. Namun, ada yang ganjal dilihat ilmuwan ini dari tingkah laku pria ini selama dalam perjalanan. Yaitu setiap lima atau sepuluh menit, pria ini menendang-nendang buntalan karungnya itu sambil menggoyang-goyang karung tersebut berulang kali.

Namanya ilmuwan yang haus akan ilmu pengetahuan. Akhirnya Profesor yang penasaran ini bertanya kepada pria tersebut.

Categories
Lain-lain

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Oleh: Dr. Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS -Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Categories
Ideologi

Italia Dihancurkan Oleh Komunis Cina dan Dalam Negeri

Oleh: Giacomino Nicolazzo

Giacomino Nicolazzo adalah salah satu penulis yang paling dicintai di Italia.  Lahir dan dibesarkan di Pennsylvania Tengah AS, ia tinggal di sebuah desa kecil di Montecalvo Lombardy Italia, di mana ia menulis buku-bukunya.

Saat saya duduk di sini di luar kemauan saya melakukan isolasi mandiri, baru saja dilaporkan bahwa dalam semalam 743 lebih banyak orang meninggal dan 5.249 kasus baru telah dilaporkan. Ini membuat total kasus infeksi menjadi 69.176 dan jumlah yang meninggal menjadi 6.820.  Kami lega mengetahui bahwa 8.326 orang telah pulih sejauh ini.  (Angka pada 3/24, 8:30 malam di Italia.)

Sebagian besar kota di Italia, dari hulu pegunungan Alpen hingga pantai kuno Sicilia dan Sardenia, meski tidak sepi, jadi lebih mirip kota hantu daripada pusat pariwisata, bisnis, padahal kehidupan sehari-hari yang ramai, hanya selang beberapa minggu yang lalu. 

Categories
Tokoh Politik Muslim

Jokowi Mati Gaya, Anies The Real Leader

Oleh Hersubeno Arief

Agak sulit bagi publik untuk tidak membanding-bandingkan kualitas kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan dengan Presiden Jokowi.

Tak bisa ditutup-tutupi lagi. Seperti sebuah panggung drama, tabir pencitraan  sudah terbuka lebar. Publik bisa langsung melihat realitas di belakang panggung. Inilah wajah asli dari kualitas seorang Jokowi.

Benar seperti dikatakan oleh Benjamin Bland dari lembaga pemikir (think tank) Lowy Institute, Sidney, Australia. Wabah Covid-19  mengungkap celah kualitas Jokowi sebagai seorang pemimpin sebuah pemerintahan.

“Kualitas kepemimpinanya ad hoc (terbatas), dan kurangnya pemikiran yang strategis dalam pemerintahan,” tulis Ben Bland dalam artikel berjudul:  Covid-19 Crisis Revealscracks in Jokowi’s Ad hoc Politics.

Categories
Ideologi

Radikalisasi Pancasila

Oleh Kuntowijoyo*

SEJAK dihapuskannya sebagai asas tunggal untuk partai dan organisasi massa (ormas) oleh kekuatan reformasi, Pancasila tidak terdengar lagi gemanya. Ia kehilangan kredibilitas sebagai ideologi, karena begitu banyak penyelewengan yang mengatasnamakannya.

"Anti-Pancasila" begitu mudah diluncurkan para pejabat Orde Baru (Orba) untuk membekuk musuh-musuhnya, ekstrem kanan dan ekstrem kiri. Pancasila, temuan para founding fathers yang paling cemerlang, menjadi dokumen mati. Hanya para mahasiswa-setidaknya mahasiswa UGM (Universitas Gadjah Mada) yang harus mengambilnya selama dua semester masih menekuninya, meski banyak di antara mereka mempertanyakan relevansinya. Sebab, menurut mereka, sepertinya negara ini berjalan juga tanpa Pancasila.

Agaknya kita perlu memberi ruh baru pada Pancasila, sehingga ia mampu menjadi kekuatan yang menggerakkan sejarah. Selama ini Pancasila hanya jadi lip service, tidak ada pemerintah yang sungguh-sungguh melaksanakannya. Ada indoktrinasi di zaman Orde Lama (Orla) dan penataran di zaman Orba, tetapi keduanya tidak pernah efektif, hanya dipandang sebagai ritual politik yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kenyataan sejarah. Kini kita perlu kembali Pancasila, agar perjalanan sejarah bangsa tidak kehilangan arah.

Categories
Islamofobia

Gelar Islam Radikal dari Islamofobia

Oleh: Nasihin Masha

Media-media asing menyebut kemenangan Anies-Sandi sebagai kemenangan Islam radikal, Islam garis keras, dan Islam fundamentalis. Sejumlah, bahkan banyak, pihak di dalam negeri juga menyebut hasil Pilkada DKI 2017 sebagai kemenangan Islam radikal.

Para penuduh ini seperti sedang membuat orang-orangan sawah bahwa politik identitas sebagai hantu yang harus diusir. Intinya orang Islam itu tidak Pancasilais, anti-Bhinneka Tunggal Ika, dan tentu saja tak layak hidup di NKRI.

Categories
Partai Islam

Pelajaran untuk PKS

Oleh: Sapto Waluyo, Center for Indonesian Reform

Semula artikel ini akan diberi judul ‘Pelajaran dari PKS’. Tapi, setelah penyusunan fakta dan logika, penulis bertanya kepada diri sendiri: memangnya sehebat apa Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang baru berusia 19 tahun (jika dihitung dari kelahiran Partai Keadilan pada 1998 sebagai cikal bakalnya)? Tak ada yang dahsyat seperti, misalnya Partai Demokrat (PD) yang berusia lebih muda (16 tahun), namun sudah sukses menempatkan pendirinya (Susilo Bambang Yudhoyono) sebagai Presiden RI selama dua periode (2004-2014).

Pendukung PKS sering menyebut diri sebagai ‘Partai Dakwah’, tetapi capaian dakwahnya masih sangat jauh dibandingkan gerakan dakwah sekelas Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) yang sudah berusia satu abad. Dalam usia muda dan ukuran politik menengah (6,79 persen perolehan suara nasional dalam pemilihan umum 2014), maka kontribusi PKS untuk umat dan bangsa belum cukup signifikan. Karena itu, lebih realistik untuk mengajak kader dan konstituen PKS berefleksi bersama: apa pelajaran yang bisa dipetik selama 19 tahun masuk kancah politik nasional?

Categories
Tokoh Politik Muslim

Mosi Integral Natsir

Oleh: Lukman Hakiem

3 April 65 tahun yang lalu, Mohammad Natsir (1908-1993) menyampaikan pidato di Dewan Perwakilan Rakyat Sementara Republik Indonesia Serikat (DPRS RIS). Pidato itu diberi judul Mosi Integral.

Sebagaimana diketahui, Konferensi Meja Bundar di Den Haag, Belanda, 23 Agustus-2 November 1949 menghasilkan empat hal sebagai berikut: (1) Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia Serikat setuju membentuk Uni yang longgar antara Negeri Belanda dan RIS dengan Ratu Belanda sebagai pimpinan simbolis; (2) Sukarno dan Mohammad Hatta akan menjabat Presiden dan Wakil Presiden, dan antara 1949-1950 Hatta akan merangkap menjadi Perdana Menteri RIS; (3) Belanda masih akan mempertahankan Irian Barat, sekarang Papua, dan tidak ikut dalam RIS sampai ada perundingan lebih lanjut; dan (4) Pemerintah RIS harus menanggung hutang pemerintah Hindia-Belanda sebesar 4,3 miliar Gulden.

Categories
Islam Politik

Bila Zaman Mengibliskan Islam Politik

Oleh: Muhammad Subarkah

Pada sebuah pertemuan istri pejabat negara di awal tahun 1950-an, yang di antaranya dihadiri Solihah Wahid (istri menteri agama KH Wahid Hasyim) dan Poppy Syahrir (istri perdana menteri Syahrir) ada sebuah peristiwa yang patut dikenang sampai sekarang. Hal itu adalah ketika Solihah 'curhat' kepada Poppy.

Kisah itu kembali dituturkan politisi muda Nahdliyin, Khatibul Umam Wiranu. Kata Umam isinya membuat hati 'ngenes' dan menjadi pertanda betapa dalamnya sikap 'menyepelekan' kekuatan Islam meski kemerdekaan sudah diraih. Padahal, kontribusi umat Islam adalah hal utama dalam perjuangan meruntuhkan kekuasaan kolonoial.